Dermaga Derita / Pier of Sorrow

Authors

Budi Tri Santosa
Diana Hardiyanti

Synopsis

Latief S. Nugraha

 

Sebiji puisi, apa pun wujudnya, setidaknya telah membuat seseorang selamat dari suatu beban berat. Kisah hidup seseorang dengan segala persoalannya boleh jadi merupakan bekal pengalaman spiritual yang tidak dimiliki oleh orang lain. Jelasnya, setiap orang menjalani proses hidup masing-masing, yang bisa menjadi suatu keberuntungan jika hal tersebut dapat mendasari sebuah proses kreatif dan melahirkan karya, dalam hal ini puisi.

Contoh konkret dari apa yang saya utarakan ini adalah antologi puisi Dermaga derita karya Budi Tri Santosa yang berkolaborasi dengan penerjemah Diana Hardiyanti ini. Konon, puisi-puisi ini dibuat pada tahun 2012 tatkala sang penyair masih kuliah semester 3 di Jurusan Sastra Inggris, Universitas Negeri Yogyakarta. Situasi dan kondisi yang menimpa Budi Tri Santosa kala itu telah menempanya dan tidak lantas disia-siakan begitu saja tapi kemudian diekspresikan menjadi puisi. Suatu keputusan dan langkah cemerlang untuk mengubah posisi dari yang tengah jatuh menjadi suatu hasil yang gemilang.

Suasana batin yang gelisah dan keterpurukan menjadi satu latar belakang para penyair, tak terkecuali Budi Tri Santosa untuk meluapkan emosinya dalam puisi. Persoalan ekonomi, proses pencarian jati diri seseorang yang tengah beranjak dewasa, dan kisah asmara menjadi bahan baku puisi-puisi Budi Tri Santosa. Beruntungnya lagi, dalam situsi nglambrang, kosong, kejenuhan, penyair kita ini bertemu dengan orang-orang yang dipandangnya hebat dalam hal sastra, yakni Herry Mardianto (peneliti Balai Bahasa DIY), Landung Simatupang (sastrawan, aktor), dan Ahmad Zamzuri (peneliti Balai Bahasa DIY). Ia pun kemudian menemukan suatu kebebasan berekspresi seni melalui pertunjukan teater dan pembacaan puisi.

Sidang pembaca yang budiman, rasa-rasanya tanpa saya mengutip puisi karya Budi Tri Santosa tentu sudah dapat membaca dengan seksama bagaimana cita rasa puisi-puisi yang juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris di dalam buku ini. Puisi-puisi yang lugas apa adanya sesuai dengan emosi sang penyair saat menuliskannya. Yang perlu menjadi catatan ialah bahwa sebebas-bebasnya suatu karya diciptakan, ia tetap memiliki kaidah, baik teknis maupun nonteknis, seperti penggunaan kata-kata baku, penggunaan ejaan yang sesuai, hingga logika bahasa. Hal tersebut terkait dengan pemahaman sang penyair terhadap teks puisi, juga pemahaman terhadap kerja imajinasi. Hal tersebut kemudian diungkapkan dengan kata demi kata yang terangkai sebagai puisi. Sifat puisi tentu saja berbeda dengan karya sastra yang lainnya. Puisi yang memiliki kecenderungan ringkas dalam ungkapan mendorong penyair untuk benar-benar tepat dalam memilih kata kalimat yang mewakili pikiran maupun perasaan yang ingin diungkapkannya.

Sebagai karya sastra puisi adalah inti, isi, biji, nilai. Di dalamnya terdapat jiwa puisi yang boleh jadi pengertiannya tidak sama dengan pemahaman-pemahaman yang kita pahami secara umum saat ini. Dari situ —sidang pembaca boleh setuju, boleh tidak setuju— saya akan menyatakan bahwa puisi adalah apa yang Anda rasakan dan pikirkan tentang puisi itu sendiri.

Untuk itu, mari kita tilik pandangan Guru Besar Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta, Prof. Suminto A. Sayuti  mengenai puisi, bahwa puisi adalah “Sebentuk pengucapan bahasa yang memperhitungkan adanya aspek bunyi-bunyi di dalamnya, yang mengungkapkan pengalaman imajinatif, emosional, dan intelektual penyair yang ditimba dari kehidupan individual dan sosialnya; yang diungkapkan dengan teknik pilihan tertentu, sehingga puisi itu mampu membangkitkan pengalaman tertentu pula dalam diri pembaca atau pendengar-pendengarnya.” Meski yang disampaikan tersebut belum mencakup semua jenis puisi yang ada hingga saat ini, namun rasa-rasanya pengertian tersebut pas dengan latar belakang puisi-puisi yang ditulis oleh Budi Tri Santosa dalam buku ini.  

Dari pengertian-pengertian itu saya pun menarik tali simpul bahwa bersastra adalah cara merawat ingatan, bahasa, dan ilmu pengetahuan. Oleh karenanya, puisi dan karya sastra lainnya memiliki beban untuk mengungkapkan hal-hal yang tertindih, ditindih, terpendam, dipendam, tersembunyi, disembunyikan, tersingkir, disingkirkan dari realitas yang ada di permukaan. Tidak ada gunanya, saya rasa, jika seorang penyair membuat puisi mengenai suatu hal yang sudah diketahui banyak orang tanpa sudut pandang yang lain, lebih-lebih jika hal yang dituliskan itu amat sangat personal. Seorang penyair mesti bisa menyampaikan dunia di dalam dirinya ke hadapan khalayak ramai sebagai suatu “dasar perhitungan kini”, meminjam diksi  Chairil Anwar.

Benar adanya, bahwa mencipta puisi tidak ada teorinya. Akan tetapi, apa yang kita tuliskan melalui puisi tentu saja ada ilmunya. Oleh karena itu, setiap penyair pasti memiliki cara tersendiri dalam mencipta puisi. Namun, setidaknya, para penyair akan menuliskan hal-hal yang diketahui, hal-hal yang dekat dengan sang penyair. Atau, para penyair akan menuliskan hal-hal yang ingin dibacanya, hal-hal yang ingin diketahuinya, sehingga terciptalah puisi.

Pada akhirnya, segala derita dan kepayahan dalam laku hidup seseorang biarlah terjadi sebagai proses menuju kedewasaan, dan puisi akan menjadi ramuan penawar luka-lukanya. Sebab, jiwa puisi adalah ketika kita masih bisa tercengang dengan hidup dan kehidupan ini.

Latief S. Nugraha, carik Studio Pertunjukan Sastra. Bukunya yang telah terbit adalah antologi puisi Menoreh Rumah Terpendam (Interlude, 2016) dan Sepotong Dunia Emha (Octopus, 2018).

Published

January 6, 2022